Sabtu, 19 Januari 2013

Kabaret ‘Mahabaratha', Untuk Siswa agar Mengenal Budaya




Apa yang Anda ketahui tentang kisah Pandawa Lima? Mayoritas masyarakat mengenal Pandawa Lima sebagai tokoh-tokoh yang gagah berani dengan kekuatan khususnya masing-masing. Namun, bagaimana jika Pandawa Lima ternyata mengocok perut masyarakat yang mengikuti kisah mereka? 

Hal itulah yang terjadi di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat. Perjuangan Pandawa Lima dalam panggung kabaret yang mengangkat kisah Mahabarata membuat para penonton tak malu memperlihatkan tawa bahagianya. Tak hanya tertawa, para pelajar juga memeperlihatkan kekaguman kepada Pandawa Lima. Decak kagum tertuang dalam riuh tepuk tangan ketika para legenda tersebut berhasil merebut kembali kerajaan Astina dari tangan Kurawa.

Kabaret Mahabarata yang diselenggarakan oleh Event Organizer Badalohor Broadcast and Entertainment memang disajikan penuh kelucuan dan keharuan. Pertarungan Pandawa dan Kurawa dalam perang Barathayudha sejenak serius, sejenak penuh lelucon. Tak hanya Pandawa sebagai lakon yang mampu beraksi lucu, peran lain yang mendukung jalannya cerita juga tak kalah membuat para penonton tertawa.

Ketika diperhatikan, tawa yang ‘bergemuruh’ di gedung tersebut merupakan tawa penonton yang ternyata siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Ya, kabaret tersebut melibatkan banyak pelajar, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, baik sebagai penampil maupun penonton. Target utama kabaret ini memang pelajar. Oleh karena itulah kabaret tersebut dibuat lucu dan ringan, agar dipahami pelajar pada umumnya. Hal tersebut diakui oleh Windi Ruswandi, Pimpinan Produksi Badalohor Broadcast and Entertainment, ketika diwawancarai setelah pementasan pada Rabu (16/1), hari kedua jadwal pementasan.

Pada hari kedua pagelaran, bangku penonton dipadati siswa SD Lugina Sari I, Lugina Sari II, dan Sukagalih VII. Dari tiga sekolah dasar yang terletak satu kompleks tersebut, siswa-siswa yang ikut merupakan siswa kelas IV,V,dan VI. Merekalah yang menyemarakkan gedung pagelaran tersebut dengan memberikan reaksi terhadap aksi-aksi para penampil.

Satu hal yang patut dibanggakan dari keikutsertaan siswa-siswa tersebut adalah mereka yang meminta pada guru untuk hadir menonton pertunjukan. Guru-guru di sekolah tersebut juga tak mau menghambat minat siswa-siswa mereka. Menurut Windresna, guru di SD Lugina Sari, guru-guru membawa mereka ke pertunjukan sebagai bentuk pembelajaran luar sekolah. “Mereka setelah diberi tugas menceritakan kembali apa yang mereka tonton,untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia,” ujarnya ketika diwawancarai setelah menonton pertunjukan. Namun, ternyata keinginan siswa tersebut juga harus diiringi tanggung jawab masing-masing membeli tiket seharga Rp 15.000 untuk masuk menonton pertunjukan.

Berbeda dengan tiga SD tersebut, SMP Pelita Nusantara justru memang membawa siswanya sebagai agenda sekolah tersebut. Agenda itu dinamakan Outing Program yang bertujuan mengenalkan kegiatan di luar. Kegiatan yang bersifat tematik tersebut pada hari itu membawa siswa-siswa kelas VIII menonton kabaret Mahabaratha. Untuk kelas VII dan IX akan dibawa pada hari lain. Hal yang sama dengan tiga SD sebelumnya, SMP Pelita Nusantara juga memberikan tugas Bahasa Indonesia, yaitu menganalisis unsur instrinsik kabaret tersebut.

Windi mengatakan, pemilihan kisah Mahabaratha untuk kabaret ini juga merupakan hasil survei kepada siswa sebagai target. Lebih jelas ia mengatakan, “Kami melakukan survei pada siswa, dan banyak siswa tidak mengetahui tentang budaya.” Mereka kemudian memilih Mahabaratha dengan mencari kisah yang mengandung unsur budaya, yang sarat makna sosial.

Windi menjelaskan lebih lanjut, setelah menentukan kisah Mahabaratha mereka mengumpulkan berbagai versi cerita yang beredar. Cerita-cerita tersebut mereka bandingkan untuk digabungkan menjadi kisah yang utuh versi Badalohor. Ia mengatakan, kisah Mahabaratha yang dipilih kemudian disajikan penuh dengan perseteruan baik dan buruk, kepahlawanan dan sifat rela berkorban.

Untuk penampil, Badalohor jelas melibatkan banyak siswa se-Kota Bandung dan Cimahi. Windi dan rekan-rekannya memilih siswa-siswa dari 13 sekolah. Lima di antaranya sekolah menengah pertama (SMP), sisanya sekolah menengah atas (SMA).

Dalam persiapannya, para anggota event organizer tersebut disebar ke 13 sekolah tersebut sebagai pelatih. “Ibaratnya mereka itu sedang ujian di sekolah,” kata Windi menjelaskan posisi anggota Badalohor yang menjadi pelatih. Para pelatih melatih masing-masing sekolah dengan sedikit garapan yang berbeda di setiap sekolah. “Yang berbeda hanya beberapa garapan seperti audio, disesuaikan dengan karakteristik sekolah. Untuk cerita dan kostum, semua sama,” katanya.

Setelah siswa-siswa 13 Sekolah tersebut telah menyelesaikan waktu latihannya selama 2 bulan, mereka tampil dengan jadwal yang diatur sedemikian rupa. Pada penampilannya, para pelatih juga ikut tampil bersama penampil dari masing-masing sekolah. Selain penampilan masing-masing sekolah dengan cara aktingnya masing-masing, para pelatih juga meramaikan jadwal pagelaran dengan menampilkan kabaret yang dimainkan oleh mereka semua. Kabaret yang diisi oleh para pelatih tersebut ditampilkan pada Rabu (16/1).

Para siswa yang bermain peran dalam kabaret tersebut ternyata diambil dari ekstrakurikuler teater di sekolahnya masing-masing. Dalam ekstrakurikuler, siswa kemudian akan diberi penilaian berdasarkan aktivitas mereka masing-masing. Hal itulah yang membuat mereka mau ikut terlibat dalam penampilan kabaret tersebut , yang juga memudahkan Badalohor mencari dan melatih pemain.

Terbukti, para peserta ekstrakurikuler teater tersebut mampu menyajikan kabaret yang tak kalah baik dibanding yang ditampilkan pelatihnya. Bagaimana Arjuna memperlihatkan ketangguhannya memanah, bagaimana Abiasa memperlihatkan kesombongannya hingga ia mati di akhir cerita, atau bagaimana Arimba bersikap marah dan menyeramkan, diperankan dengan baik oleh siswa-siswa tersebut.
           
     Pertunjukan yang berlangsung selama 59 menit 23 detik tersebut memang diakui sangat menarik oleh para penonton. Perina, guru SMP Pelita Nusantara dengan singkat memberi pandangan terhadap kabaret tersebut, “Well Prepare!”. Selain itu Fahri dan Rian, siswa kelas 4 SD Sukagalih 7 mengaku paham dan suka pada alur cerita kabaret tersebut. Satu yang disayangkan, usaha dan keberhasilan Badalohor mengangkat budaya belum terakomodasi dengan baik oleh pemerintah. 
           
         Pementasan Kabaret tersebut diselenggarakan mulai tanggal 15 hingga 20 Januari 2013. Kabaret yang  direncanakan sejak Juli 2012 ini seharusnya diselenggarakan pada November 2012. Penundaan hingga Januari 2013 dikarenakan gedung pementasan direnovasi saat itu.

Kawah Putih, Indah namun Penuh Keluhan


“Semuanya ada di Jawa Barat,” ungkapan yang dinyanyikan Sule dalam iklan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk pariwisata tersebut memang benar adanya. Tak usah jauh-jauh, cukup datang ke ibukota Jawa Barat, Bandung wisatawan dalam dan luar negeri akan menemukan beberapa tempat wisata alam yang mengesankan.

Kawah Putih menjadi salah satu pilihan wisatawan yang ingin membuktikan nyanyian Sule tersebut. Dengan menampilkan alam pegunungan dan iklim yang dingin, Kawah Putih mampu membuat pengunjungnya terkagum-kagum. Tempat wisata yang satu ini masih berada di Kabupaten Bandung, tepatnya Ciwidey, sekitar 46 kilometer ke arah selatan pusat kota Bandung. Jadi, Kawah Putih menjadi salah satu pilihan terdekat pengunjung kota Bandung yang ingin melihat keindahan alamnya.

Secara geografis, Kawah Putih berada di area gunung Patuha. Menurut sejarah, gunung Patuha disebut-sebut masyarakat sebagai wilayah angker, karena tak ada satupun hewan yang berani mendekat. Hingga suatu saat, wilayah ini ditemukan oleh peneliti dari Belanda. Wilayah ini ditemukan dengan kandungan zat belerang, yang diduga menjadi penyebab hewan tak ada yang berani mendekat. “Penemunya bernama Junghuhn, seorang Belanda keturunan Jerman. Ia menemukan bahwa Kawah Putih terbentuk akibat letusan gunung Patuha pada abad 12,” jelas Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jawa Barat Ahmad Djumarma Wirakusumah.

Pengunjung Kawah Putih memang mengakui sangat terguguah dan senang ketika melihat hamparan alam tersebut. Rini, salah seorang pengunjung yang berasal dari Jakarta mengaku baru kali ini dapat melihat keindahan alam seperti di Kawah Putih tanpa harus menapaki jalanan setapak yang terjal seperti menuju puncak gunung. “Saya tidak harus capek-capek mendaki gunung untuk melihat kawah seperti ini. Saya juga belum pernah mendaki gunung. Di sini saya dan orang tua cukup mengendarai mobil ke sini, lalu naik kendaraan umum di sini,” ungkap Rini memperlihatkan rasa kagumnya.

Di Kawah Putih pengunjung dapat melihat hamparan pasir putih bersih. Pasir tersebut menjadi lahan berpijak pengunjung untuk melihat keindahan kawah yang menjadi tujuan utama. Kawah putih menyerupai danau tersebut mengelurakan gumpalan-gumpalan uap yang merupakan panas karena zat belerang dalam kawah tersebut. Layaknya air mendidih, kawah tersebut senantiasa mengundang rasa penasaran pengunjung untuk menyentuh airnya. Tak hanya menyentuh, mereka juga mencoba untuk mencium bau zat tersebut, bahkan menjilati untuk mengetahui rasanya. Padahal, di sana telah terpampang papan himbauan untuk tidak menyentuh air kawah.

Selain itu, di sekitar kawah tersebut, pada pasir putih tersebut tumbuh banyak pohon yang beberapa di antaranya menggugurkan daunnya. Hal tersebut menjadikan tempat tersebut seperti daratan Eropa yang sedang mengalami musim gugur. Beberapa pengunjung tampak menikmati suasana pepohonan yang menggugurkan daun tersebut dengan mengambil foto diri mereka sendiri di depan pohon-pohon tersebut. Hasil fotonya, memperlihatkan mereka seperti sedang berada di daratan Eropa yang sedang dalam musim gugur.

Di samping kawah yang menjadi tujuan utama, terdapat sebuah goa. Goa tersebut berukuran cukup besar, pas untuk badan manusia yang ingin memasukinya. Namun, goa tersebut ditutup. Bahkan pengunjung dilarang untuk berdiri di depan goa tersebut terlalu lama. Menurut Ahmad Djumarma Wirakusumah, goa tersebut merupakan goa peninggalan Belanda. Mengenai mengapa goa tersebut ditutup, Ahmad juga tidak mengetahui penyebabnya.

Keindahan alam Kawah Putih masih tetap bisa dinikmati meskipun dalam kondisi hujan. Uap yang dihasilkan kawah menjadi seakan berkabut dan membentuk keindahan yang berbeda di Kawah Putih. Yang menjadi kendala hanyalah susahnya mengambil foto dan iklim yang semakin dingin.

Untuk dapat memuaskan hasrat rekreasi di Kawah Putih, pengunjung harus mengeluarkan biaya yang tergolong mahal untuk sekelas pariwisata alam, yakni Rp 17.000 per orang. Kemahalan biaya tersebut telah beberapa kali diungkapkan oleh wisatawan yang telah berkunjung. Khairul, pengunjung yang berasal Sumatera Barat, mengakui hal tersebut ketika diwawancarai oleh reporter Republika. “Jika dibandingkan wisata alam di kampung saya, Kawah Putih tergolong mahal. Belum lagi ongkos jasa angkutannya,” ujarnya mengeluhkan. Keluhan pengunjung tersebut ternyata juga diakui oleh Penasehat Asosiasi Travel Agen Wisata (Asita) Jabar, Hilwan Saleh. “Mahalnya harga tiket Kawah Putih memang sudah banyak dikomplain oleh wisatawan,” katanya ketika diwawancarai di kantornya, Jl. Tamblong No.8 Bandung. Harga tiket tersebut juga bisa sewaktu-waktu naik, sesuai kondisi waktu saat itu, waktu liburan atau tidak.

Selain biaya, hal yang dikeluhkan oleh pengunjung adalah angkutan umum menuju kawasan utama Kawah Putih dari tempat parkir di gerbang bawah. Angkutan yang dinamakan “Ontang-anting” tersebut dikeluhkan karena ugal-ugalan. Selain itu “Ontang-anting” tidak berpintu rapat atau bisa dikatakan terbuka. “Ontang-anting” hanya berpintukan jendela plastik yang bisa digulung ke atas. Hal ini dapat mengakibatkan kecelakaan, yaitu pengunjung atau barang bawaannya yang jatuh.

Sebenarnya, untuk angkutan menuju kawasan utama ada dua. Jika membawa mobil pribadi, pengunjung bisa menuju ke Kawah Putih dengan mobil tersebut. Namun, pengunjung dikenakan biaya yang cukup besar, yaitu Rp 150.000 per mobil, tetap ditambahkan dengan biaya masuk Rp 17.000 per orang. Mahalnya biaya masuk tersebut membuat pengunjung memilih menggunakan sarana “Ontang-anting” yang memungut biaya Rp 10.000 per orang dengan sistem antar-jemput.

Namun, meskipun mahal, Kawah Putih cukup menyediakan fasilitas yang baik untuk pengunjung. Selain Ontang-anting, juga disediakan tempat parkir kendaraan yang cukup aman, meskipun harus membayar Rp 5000 untuk motor, dan Rp 6000 untuk mobil. Kamar mandi dan tempat shalat juga tersedia di kawasan utama Kawah Putih. Selain itu, di kawasan utama juga terdapat jasa penyewaan payung ketika hujan, dan jasa pemotretan oleh masyarakat sekitar. Satu hal yang menjadi keluhan dan menjadi kekurangan fasilitas di sana ialah jaringan yang susah dijangkau. Ini menjadi usulan kepada pemerintah atau jaringan provider untuk memperkuat jaringan di kawasan utama Kawah Putih.

Segala keluhan yang diungkapkan pengunjung tersebut telah disampaikan kepada pemerintah dalam berbagai bentuk. Jika mencari internet, akan banyak ditemukan tulisan mengenai Kawah Putih berikut dengan komplainnya. Selain itu juga ada yang menyampaikan lewat media massa cetak Jawa Barat. Namun, hingga sekarang segala bentuk keluhan belum dapat ditangani oleh pemerintah. 
  
Untuk bisa sampai pada tempat wisata Kawah Putih, pengunjung dapat menempuh beberapa jalan alternatif. Jika mengendarai mobil, pengunjung dari Jakarta bisa lewat jalan Tol Kopo, terus menuju Soreang, hingga nanti memasuki daerah Ciwidey. Untuk yang berangkat dari Bandung juga bisa menempuh jalan tol, yaitu masuk jalan tol Pasteur, kemudian keluar di pintu tol Kopo untuk mengarungi jalur yang sama. Selain itu juga bisa lewat jalan biasa. Jika dari daerah Dago, bisa melalui jalan Pajajaran, masuk ke Cimahi, melewati Jalan Raya Nanjung, masuk Kopo kemudian Soreang, hingga terus ke Ciwidey. Jalur tersebut juga bisa ditempuh dengan sepeda motor. Jika menggunakan alternatif Jalan Soekarno-Hatta, pengunjung bisa terus menyusuri jalan itu hingga perempatan Margahayu, belok kiri menuju daerah Kopo, terus ke Soreang, lalu ke Ciwidey. Memasuki daerah Ciwidey, pengunjung terus menyusuri jalan tersebut hingga medapati tugu besar bertuliskan “Kawah Putih”.

Selasa, 08 Januari 2013

Sebuah Penjelasan atas Kritik dan Protes terhadap Film "Cinta tapi Beda"

Bolehkah saya ikut berklarifikasi menjelaskan masalah yang dipermasalahkan untuk film "Cinta Tapi Beda" karya Hanung yang diproduseri keluarga Punjabi?

Kalau boleh, singkatnya begini saja.

Ada tuntutan dari beberapa kelompok masyarakat Minang atas film tersebut. Tuntutannya adalah "Penghinaan" terhadap Minangkabau, terkait tokoh Diana sebagai gadis Padang namun beragama Katholik.

Saya jabarkan dahulu premisnya:


1. Padang itu kota, Minangkabau itu suku bangsa dengan segala adat budayanya.
2. Minangkabau, memiliki falsafah hidup "Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" yang terpatri pada perjanjian Bukik Marapalam.
3. Dari sana terpatri adat budaya bahwa Orang Minang asli, yang asli dengan adat dan budayanya, tentu harus beragama Islam. Di luar agama Islam, ia bukan orang Minangkabau.
Kota Padang, diisi oleh banyak suku bangsa, meskipun didominasi suku Minangkabau.
4. Orang Padang, pada kenyataannya, orang non Minang menganggap orang Padang itu sama dengan orang Minang (menurut pengalaman saya).
5. Hanung menokohkan Diana sebagai orang Padang, besar kemungkinan orang non-Minang menafsirkan Diana adalah orang Minang.
6. Pada filmnya (menurut yang sudah nonton), tidak dijelaskan bahwa Ranah Minang, tempat bernaungnya mayoritas adat budaya Minangkabau bersendikan agama Islam.

Jadi permasalahannya adalah:

1. Orang Padang yang biasanya dikenal oleh orang non-Minang dan orang awam lainnya sebagai orang Minang disajikan beragama non-Islam pada film tersebut.
2. Artinya, orang awam bisa menilai bahwa Orang Minang itu ada yang beragama selain agama Islam.
3. Padahal, SECARA ADAT, orang Minangkabau, haruslah beragama ISLAM. Keluar dari agama Islam, ke-Minang-annya hilang.

Jadi,


1. Itulah yang diprotes oleh mayoritas orang Minangkabau. Yakni penyajian Orang Minang yang bukan beragama Islam. Secara ADAT, itu tidak sesuai.
2. Satu yang harus ditekankan, yang memprotes bukanlah menghina balik agama non-Islam yang dikisahkan dalam film tersebut.

Begitulah. Saya harap tidak ada kesalahpahaman antara orang Minang dengan orang yang beragama non-Islam. Islam adalah agama yang indah, agama yang damai. :)

Ada kritikan? :)

Sabtu, 01 Desember 2012

PILIHLAH YANG TERBAIK UNTUK KEMA UNPAD!!



Sebuah Pandangan dari Mahasiswa Unpad yang Awam Akan BEM Kema Unpad


Hidup Mahasiswa!!!

Kampanye Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Capres-Cawapres BEM Unpad) telah ditutup pada Selasa (27/11) lalu. Kampanye untuk memeriahkan Pemilu Raya Unpad (Prama) itu bertujuan memperlihatkan kepada mahasiswa Unpad siapa saja calon yang pantas dan akan menjalankan kelanjutan kepemimpinan eksekusi Keluarga Mahasiswa Unpad. Dari kampanye ini, setidaknya mahasiswa Unpad yang awalnya belum mengetahui bagaimana kualitas calon pemimpin bisa mengenal dan menilai sendiri bagaimana pemimpin yang baik untuk BEM Kema Unpad. Hal ini dilakukan karena memang sistem yang diterapkan adalah sistem demokrasi, yang menuntut adanya kampanye, agar calon pemilih bisa memiliki gambaran untuk memberikan suaranya. Sangat diharapkan suara yang diberikan tidak asal-asalan. 

Baru Kenal di Prama Unpad 2012

Jujur, saya bukan tim sukses salah satu calon, saya tidak satu jurusan dengan masing-masing calon, saya tidak pernah satu KKN dengan masing-masing  calon. Pada intinya saya tidak pernah mengenal masing-masing calon, sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) Unpad mempersilahkan mereka memperkenalkan diri pada khalayak Unpad, dan ‘bernarsis’ diri agar mereka calon pemilih melirik pada mereka. Lebih tepatnya, saya benar-benar mengetahui siapa mereka sejak Prama  dipanas-panasi oleh kabar bahwa adanya bakal calon yang mengundurkan diri karena ambiguitas peraturan menurut bakal calon tersebut. Ya, saya sendiri yang membuat tulisan ‘ambiguitas peraturan KPU’ tersebut. 

Di sini saya menulis tulisan ini, hanya memberikan pandangan saya terhadap capres-cawapres. Berdasar pada pasal 28 UUD 1945, saya berhak menyampaikan pendapat saya. Penilaian saya objektif, berdasar pada apa yang saya perhatikan selama sekitar satu bulan atau lebih. Mungkin tak cukup waktu sebulan untuk menilai calon-calon ini, tapi apa boleh buat, saya baru mengenal mereka baru ketika kampanya Prama akan dimulai. Baiklah, saya akan langsung memberikan pandangan terhadap Helby-Nabila dan Wildan-Rendy. 

Kemampuan Menyampaikan Pesan

Dari dua pasang calon tersebut, saya lebih dahulu mengenal Wildan-Rendy, ketika memberikan tambahan kesaksian atas ambiguitas KPU yang saya beritakan. Awalnya saya ingin mewawancarai kedua pasang calon, tapi saya hanya punya link ke Wildan. Namun, ini tidak masalah, karena saya hanya menambahkan data dari sisi calon yang lain. 

Ketika akan mewawancarai Wildan, ia mengajak Rendi untuk bersama-sama menjawab pertanyaan saya. Dari sana saya menilai bahwa pasangan ini kompak, dan selalu bersama-sama dalam mengambil keputusan. Namun, di sisi kritis saya, saya justru menilai Wildan yang nantinya akan menjadi Presiden, pemimpin teratas, tidak mampu mengambil keputusan atas pemikiran sendiri, selalu butuh bantuan Rendi. 

Hal ini juga berlanjut pada sesi debat Capres-cawapres hari kedua, di gerbang lama kampus Unpad Jatinangor. Saya menilai di sana Wildan selalu meminta bantuan kepada Rendi untuk melengkapi jawaban atas pertanyaan yang diberikan. Di satu sisi bisa dinilai baik, mereka kompak dan saling melengkapi. Namun, di sisi lain, ini cukup berbahaya jika Presiden Kema kelak tak mampu mengatasi secara total jika ia harus berjuang sendiri dalam suatu keadaan yang pelik. 

Beberapa hari setelah tulisan saya beredar di dunia maya, saya baru bertemu dengan Helby yang saat itu tengah berkeliling kawasan Unpad, melihat aktivitas mahasiswa Unpad di sore hari. Saat itu Helby datang bersama Iqbal, salah satu Tim Sukses Helby-Nabila ke taman komplek UKM Unpad bagian barat. Di sanalah saya pertama kali berbincang dengan Helby. Helby terkesan ramah, dan tak banyak bicara. Satu sisi saya menilai Helby tak mampu berdialog banyak dengan mahasiswa Unpad lainnya yang baru ia kenal, di sisi lain saya juga menilai Helby adalah pendengar yang baik, yang mendengarkan kritikan dan masukan mahasiswa Unpad lainnya. 

Hal tersebut berbeda dengan Helby yang ada di dunia maya (Facebook). Tak jarang Helby yang “berteman” dengan saya beberapa hari setelah saya masuk grup Warna-warni Unpad—sebuah grup diskusi, kritikan, dan masukan, serta kampanye bagi Helby-Nabila, mampu menjawab hampir semua pertanyaan dan kritikan yang disampaikan kepadanya. 

Helby menjawab dengan pilhan kata yang sedikit ‘nyeleneh’ dan banyak bercanda. Hal tersebut bisa dinilai 
positif, yakni sebagai cara Helby bergaul dan merakyat dengan mahasiswa Unpad lainnya secara umum, bisa juga dinilai negatif, yakni memang begitulah cara Helby, yang terkesan kurang serius. 

Hal ini menjadi suatu perbandingan dengan Wildan-Rendi yang terkesan banyak diam di grup lain yang mereka jadikan wadah diskusi, pemberian kritikan, dan masukan serta kampanye, Wafer Unpad. Wildan-Rendi lebih banyak diam, dengan segala kritikan. Pernah di awal-awal pembentukan grup, ada oknum yang memaki pasangan Wildan-Rendi, mereka tidak mampu menjawab. Yang menjawab hanyalah tim sukses dan orang-orang yang membela mereka. Saya juga pernah melemparkan suatu pertanyaan, namun tidak dijawab. Padahal beberapa detik setelahnya salah satu dari Wildan-Rendi mengomentari sebuah postingan yang dipost oleh Tim Sukses mereka. 

Ini berbeda dengan Helby. Ketika pasangan Helby-Nabila dihujani banyak pertanyaan, Helby mampu menjawab dengan menyesuaikan cara menjawab dengan cara orang yang bertanya memberikan pertanyaan. Ketika pertanyaan sedikit tidak sopan, ia cukup menjawab dengan cara ‘nyeleneh’dan banyak bercanda. Ketika pertanyaan serius dan sopan, ia pun menjawab dengan sopan dan serius. 

Untuk Nabila, saya baru mengenalnya beberapa hari sebelum debat calon, ketika Helby-Nabila berkunjung ke Unit Pencinta Budaya Minangkabau (UPBM). Saat itu saya dan teman-teman baru saja memulai forum evaluasi hari sekre—sebuah aktivitas rutin UPBM. Di sana Nabila memperkenalkan dirinya, dan mencoba menjawab beberapa pertanyaan anggota UPBM yang ingin bertanya pada Helby-Nabila. Jujur, saya menilai Nabila sedikit susah untuk pemilihan kata-kata dalam penyampaian sebuah pesan, mungkin karena grogi. Namun, di balik kegrogiannya itu, pesan yang ia sampaikan to the point, tidak berbelit-belit. Hal ini menjadi nilai positif, di balik nilai negatif yang ada pada diri Nabila. 

Media Kampanye

Selama masa kampanye, banyak cara yang dilakukan calon dan tim suksesnya masing-masing untuk menarik perhatian mahasiswa Unpad. Ada baligho, poster, spanduk, pamflet, video, dan lain-lain. Antara dua calon ini, dalam hal publikasi kampanye, mereka seperti tidak sebanding. Pasalnya, publikasi kampanye Wildan-Rendi ada di banyak sudut-sudut penting Unpad, terutama Unpad Jatinangor. Untuk baligho ada dua di Jatinangor, dan ada satu di Dipatiukur. Selain itu juga ada spanduk-spandu yang terletak di sisi unpad yang sering dilalui mahasiswa Unpad. Begitu juga dengan publikasi lainnya yang tergolong kecil seperti pamflet dan poster. Hal ini berbeda dengan Helby-Nabila yan hanya punya dua baligho, masing-masing di Jatinangor dan Dipatiukur, dan selebihnya pamflet-pamflet kecil yang disebarkan. 

Wildan-Rendi terkait publikasi itu pernah ditanyakan dari mana uang mereka bisa memproduksi begitu banyak publikasi. Mereka diminta untuk meberikan transparansi. Jawaban yang keluar dari pihak Wildan-Rendi ialah ini merupakan dana sumbangan, dan pihak Wildan-Rendi memperlihatkan bukti tertulis di web mereka mengenai aturan tertulis dari pihak mereka terkait uang pemasukan untuk kampanye Wildan-Rendi. 

Dua baligho yang diterbitkan di Unpad Jatinangor menyampaikan dua isi yang berbeda. Pada baligho pertama, hal yang disampaikan adalah prestasi dan pengalaman keorganisasian WIldan-Rendi. Pada baligho kedua, yang disampaikan barulah visi misi dan rencana program kerja Wildan-Rendi jika nanti terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden BEM Kema Unpad. Baligho kedua ini barulah bisa dibandingkan dengan baligho Helby-Nabila yang juga menyampaikan visi-misi dan rencana program, kerjanya. 

Selain publikasi baligho, dalam masa kampanye juga ada video yang beredar di Facebook. Sejauh pengamatan saya mengikuti perjalanan kampanye dua pasang calon ini, saya hanya melihat dua video kampanye, dua-duanya diedarkan oleh pasangan Wildan-Rendi. Mungkin Helby-Nabila juga menggunakan video sebagai media kampanye, tapi saya tak melihatnya. 

Dua video yang dikreasikan tim sukses Wildan-Rendi dapat dinilai aneh dan tidak merepresentasikan ‘kekuatan’ yang mereka tawarkan untuk bisa menjadi Presiden-Wakil Presiden BEM Kema Unpad. Pada video pertama, yang diperlihatkan hanyalah hobi Wildan-Rendi, yakni masing-masing bola basket dan futsal. Pada video kedua, justru makin aneh lagi. Video yang dibuat berisikan mahasiswa-mahasiswa Unpad yang menari-nari “Gangnam Style” yang dipopulerkan PSY dari Korea. Di sana Wildan-Rendi juga memberikan beberapa pesan-pesan, salah satunya pesan anjuran memakai helm, meskipun Rendi yang sendiri tidak memakai helm ketika mengendarai sepeda motor. Namun, setidaknya ini adalah usaha lebih dari pasangan Wildan-Rendi dalam berkampanye dibanding pasangan Helby-Nabila yang lebih sering berkampanye berkeliling Unpad. 

Debat Kandidat

KPU memiliki agenda terakhir dalam masa kampanye, sebelum masa tenang dan masa pencoblosan, yakni debat capres-cawapres. Dalam debat tersebut sebenarnya kita bisa melihat kualitas pemikiran dan cara komunikasi antara dua calon ini. Debat ini melibatkan beberapa panelis berpengalaman dan mahasiswa Unpad lainnya. 

Tanpa saya sebutkan pun sebenarnya mahasiswa Unpad lainnya yang datang saat itu bisa menilai dan membandingkan kualitas pemikiran Helby-Nabila berada di atas Wildan-Rendy. Wildan-Rendi memiliki kualitas dalam menyampaikan kata-kata, dan mereka cukup berusaha atraktif dalam berkomunikasi pada debat tersebut. Namun, Wildan-Rendi cenderung menyampaikan hal-hal yang normatif dan bertele-tele, sehingga panelis sendiri terkesan sulit menangkap maksud jawaban dari Wildan-Rendi. 

Saya punya beberapa alasan mengapa kualitas pemikiran Helby-Nabila lebih baik, berdasar pada pandangan saya pada saat kampanye. Helby-Nabila lebih awal mendapat pertanyaan dari panelis yang begitu menekan dan terkesan memojokkan. Namun, Helby-Nabila mampu menjawab tekanan tersebut dengan tenang, bahkan Helby dengan berani mengembalikan penekanan ke panelis, yang tak mampu dikembalikan oleh panelis. Hal serupa juga diperlakukan kepada Wildan-Rendi, namun Wildan-Rendi menjawab dengan bertele-tele, dan membuat panelis terus bertanya, hingga panelis terkesan malas untuk bertanya lagi. 

Selanjutnya, panelis memberikan sebuah permainan yang memperlihatkan bagaimana calon mempersepsikan sebuah kata menurut pengalaman dan pemahamannya. Panelis menyebutkan satu kata, calon harus membalas dengan kata lain yang merupakan persepsi calon terhadap kata tersebut. Dari permainan tersebut terlihat Helby, meskipun gugup mampu menjawab dengan baik setiap kata demi kata yang diberikan panelis. Setelah Helby, Wildan justru terlihat jatuh perbandingannya dengan Helby dalam memberikan jawaban. Wildan justru menjawab dengan kata-kata yang mirip atau sejenis dengan kata yang dilemparkan panelis. Bahkan panelis mengeluarkan celetukan “Oh, My God”, setelah Wildan menjawab kata terakhir yang dilemparkan panelis. 

Banyak hal lain yang memperlihatkan kualitas pemikiran Helby-Nabila dalam debat tersebut, meskipun sebenarnya Nabila sendiri sedikit terbata-bata dalam penyampaian, namun sebenarnya langsung mengenai sasaran pesan. Hal lain yang bisa dijadikan penilaian adalah cara masing-masing calon menanggapi sebuah insiden dalam debat. Insiden tersebut adalah pelemparan telur oleh anggota Front Aksi Mahasiswa (FAM) setelah Iqbal, salah satu dari mereka memberikan pertanyaan. Helby mampu menanggapi dengan tenang, dan melontaran sebuah kalimat. “Idealisme tidak harus ditunjukkan dengan teriakan,” kalimat tersebut ditambah penanggapan lain oleh Helby cukup membuat FAM tak kembali meneriaki Helby. Namun, ketika Rendi mencoba menanggapi dengan normatif, “mau tidak FAM nanti bekerja sama dengan BEM?”, FAM diwakili Iqbal kembali membalas dengan teriakan. Terdengar samar-samar, “apa maksud Anda menanyakan hal tersebut?”. 

Pandangan Teman-teman

Saya juga mendengar beberapa pandangan mahasiswa Unpad lain mengenai dua pasangan calon ini. Untuk Wildan-Rendi, beberapa saya mendengar bahwa BEM Kema akan tetap seperti yang sudah-sudah jika mereka yang memilih. Helby-Nabila menawarkan suatu perubahan. Namun pasangan Wildan-Rendi punya massa yang mutlak untuk pencoblosan nanti, ia tinggal mencari suara-suara tambahan. Wildan-Rendi pun punya pengalaman dan prestasi yang luar biasa untuk menjadi seorang pemimin Kema Unpad.

Untuk Helby-Nabila, dari awal saya mendapatkan bahwa pasangan Helby-Nabila adalah calon yang minoritas dalam hal massa. Namun, ada yang membantah karena Nabila mampu mewakili Unpad Dipatiukur. Saya juga mendengar pandangan negatif terhadap Nabila yang kurang dalam vokalnya, dan itu menjadi hal yang menjatuhkan Nabila. 

Ini hanya pandangan subjektif yang berusaha objektif dari saya. Saya tidak berusaha memengaruhi pembaca atau mahasiswa Unpad lain untuk memilih satu di antara calon, tapi hanya menyampaikan suatu pandangan sebagai mahasiswa Unpad yang awam akan politik kampus, terutama di Kema Unpad. Saya juga hanya berusaha membantu teman-teman untuk membuka pikiran terhadap calon yang akan dipilih. Saya juga tidak bermaksud menjatuhkan salah satu calon melalui tulisan saya, jika teman-teman pembaca mengangkap sebuah persepsi demikian.

Maka dari itu, satu pesan saya, pilihlah yang terbaik. Masih ada waktu untuk kita memikirkan siapa yang terbaik untuk Kema Unpad secara keseluruhan, bukan untuk kepentingan segelintir orang saja. Banyak hal yang harus kita perbaiki untuk Kema Unpad, banyak hal juga yang bisa lakukan untuk membuat nama Unpad jauh lebih baik, banyak hal juga yang bisa kita lakukan untuk INDONESIA. Jangan sampai kita salah pilih. Jangan menilai satu di antara dua calon ini karena subjektifitas dan kedekatan untuk kemudian dipilih. 

Carilah yang terbaik!!


Hidup Mahasiswa!! Hidup Rakyat Indonesia!!!

Silahkan dikomentari jika setuju, atau tidak setuju. Jika tak suka, mari berdiskusi di dunia nyata.

Semoga bermanfaat :)

Sabtu, 27 November 2010

Diare Tak Menentu..

krik...krik...

Assalamualaikum....

Teman-teman, ini adalah minggu yang ke empat saya mengidap mencret-mencret. Bingung banget, kenapa ya bisa begini. Apakah karena telat makan? Apa karena masuk angin? Apa karena cuaca? Apa karena kebersihan lingkungan?

Beberapa hari yang lalu Emak Saya udah nelepon saya nyuruh minum obat. Yang anehnya, kok beliau bisa tau saya sakit ya? hmm... Indra Batin sang ibu memang super. Atau jangan-jangan saya didoain untuk sakit trus balik ke Padang? Astaghfirullaah.... ama ibu sendiri suuzon, (Hahahaha... becanda ini...). Ga mungkin lah emak saya begitu.

Yaudah, saya harus segera minum obat biar ka ngulang-ngulang ke WC hari ini.
terima kasih.

eh, judul blog ada di status loh... hehhe

Senin, 22 November 2010

di Twitter boleh eksis

krik...krik...

Assalamualaikum!!!

saya mau ngasih sebuah komentar mengenai apa yang orang sebut-sebut “alay” . beberapa waktu yang lalu ya, saya sempat disebut alay, karena sering update status di facebook dan nyebut2 keadaan saya sendiri. hmm… tapi gak apa2 lah, its okee…. saya mah orangnya pasrah we orang mau bilang apa, yang penting gw enjoy men! hahhaha

namun ternyata nih ya, stelah saya coba aktif di twitter, waaah…. ternyata banyak yang curhat di sana. dan orang yang dulunya aktif update status di facebook dan ikut2an ngatain orang lain yang suka update status itu alay, ternyata suka curhat di twitter… jyaaaa…. trus apa bedanya?? malah dia jauh lebih parah curhatnya, hingga dia eksis. kalo di FB tuh ya, yang eksis itu alaaaaay banget, dan dicengin mulu.

hmmmm….

lalu muncul pertanyaan dari saya, apa tingkat kealayan seseorang itu dinilai dari situs jejaring sosial media komunikasinya?

orang-orang sekarang aneh2 lah… hahhaa

saya prediksi nih, bntar lagi nih twitter bakalan jadi icon alay nih, kaya yang diderita Facebook dan Friendster, wahahahhaa…


Wassalam....

Powered By Blogger