Selasa, 30 Agustus 2016

Inovasi Sumatera Barat, Jadikan Cokelat Komoditi Oleh-oleh Favorit Mutakhir

Sumatera Barat merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang dikenal dengan beberapa kekhasannya. Salah satunya rendang, jangan tanya lagi apa itu rendang, jika kamu orang Indonesia. Bahkan dunia internasional saja sudah sangat mengenal rendang.

Terkenalnya rendang yang merupakan makanan khas Sumatera Barat, juga menjadi salah satu indikator bahwa provinsi ini memiliki identitas pada ranah kuliner. Ya, banyak orang Indonesia yang menyukai makanan-makanan khas Sumatera Barat, yang biasa diistilahkan dengan “Nasi Padang”. Selain itu, cita rasa pedas dan berminyak pun menjadi sebuah ciri makanan daerah ini, terbukti dengan adanya keripik balado, ayam balado, gulai ikan, dan lain-lain.

Namun, rupanya provinsi tempat berkembangnya cerita rakyat “Malin Kundang” ini tidak hanya berpotensi pada makanan peda dan berminyak, apa lagi yang diolah secara rendang (dengan parutan kelapa, cabe, minyak, dan rempah-rempah). Ada satu potensi yang kini tengah menginovasi di Sumatera Barat. Apa itu?


Video penjelasan potensi cokelat Sumatera Barat, yang dibuat oleh penulis bersama tim bekerja sama dengan pulangkampuang.com dan UKM ITB


Dialah cokelat, makanan lezat yang disukai oleh orang sedunia. Cokelat, berasal dari buah kakao, yang ternyata dapat tumbuh dengan baik di hampir seluruh wilayah provinsi Sumatera Barat. Provinsi ini memiliki 12 kabupaten dan 7 Kota, semuanya berpotensi sebagai area pemeliharaan dan pengembangan tanaman kakao.

Kualitas tanamannya pun luar biasa, buahnya besar dan bagus, serta sangat baik untuk diolah menjadi cokelat yang dapat dikonsumsi sehari-hari. Buah yang terbaik itu ada di Kabupaten 50 Kota, karena petaninya telah mendapatkan pengetahuan cara budidaya yang baik, dan sudah menerapkannya beberapa tahun belakangan semenjak tahun 2011. Bahkan, sebuah kabar baik mengatakan bahwa hasil kakao dari kabupaten ini terdaftar dalam 50 kakao dengan citarasa terbaik se-dunia, dalam perlombaan di Paris, Perancis, tahun 2015 silam.

Setelah itu ada Kabupaten Padang Pariaman yang pertama kali memulai pengembangan tanaman kakao beserta hasil olahannya. Selanjutnya ada Kota Batusangkar, Kota Padang Panjang, dan Kota Padang.

Mesin Pabrik - Salah satu mesin di pabrik mini pengolahan
cokelat yang berada di Kecamatan Sintuak Toboh Gadang,
Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Lalu di mana inovasinya? Tentu saja ada pada pengolahan hasil tanaman kakao tersebut. Hasil terbaik kakao sebagai kekayaan nusantara hendaknya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin, tidak lagi dijual secara tradisional, tapi mestinya diolah dengan baik dan tepat, agar mendapatkan keuntungan yang lebih bagi masyarakat terutama petani. Tekonologi yang dimanfaatkan menjadi inovasi daerah yang patut disyukri.

Semenjak Gamawan Fauzi masih menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat, pemerintah provinsi ini sudah mencetuskan semangat untuk pengembangan potensi kakao. Sekitar tahun 2005, Provinsi Sumatera Barat dicanangkan sebagai Pusat Pengembangan Kakao untuk Wilayah Indonesia Bagian Barat. Saat itu, luas lahan tanaman kakao Sumatera Barat jika ditotalkan mencapai 25.042 Ha, yang dominan merupakan kebun rakyat (23.188 Ha) dan hanya 1.854 Ha milik swasta. Potensi tersebut mampu menghasilkan 14.068 ton biji coklat setiap tahunnya.

Inilah yang membuahkan inovasi awal dalam pendatangan mesin pengolah kakao untuk menjadi cokelat siap saji. Pada mulanya mesin-mesin disebar ke tiga daerah, yaitu Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Pasaman. Namun, sejauh ini yang telah diketahui berjalan dengan baik ada di Kota Payakumbuh, dengan hasilnya yang diberi brand “Cokato”, yaitu akronim dari Cokelat Kapalo Koto.

Pengemasan - Salah satu proses pengolahan hasil tanaman
kakao menjadi cokelat, yaitu pengemasan. Ini tahap yang
sangat penting dalam tujuan memasarkan produk yang dapat
jadi unggulan daerah ini. 
Hasil olahan kakao di Kota Payakumbuh tersebut dinobatkan menjadi yang terbaik di Sumatera Barat oleh Pemprov Sumbar pada tahun 2013. Hasilnya, cokelat hasil olahan daerah ini sering kebanjiran permintaan, yang bisa mencapai ratusan kilogram setiap hari. Tampaknya asset mesin pengolahan cokelat yang harganya mahal tersebut merupakan anugerah yang sangat bermanfaat bagi para petani kakao.

Tentu saja, ada banyak manfaat yang dipetik dari pemberian aset mesin tersebut oleh pemerintah. Dari satu pabrik dengan mesin-mesin yang dimilikinya, akan banyak potensi yang dapat dikembangkan sebagai inovasi daerah. Pertama, manfaat yang paling dirasakan ada pada para petani kakao yang semakin terdorong untuk bertani dengan baik.

Dengan latar belakang pendidikan dan pemahaman teknologi yang terbatas, sebelumnya petani cenderung bertani seadanya, yakni menanam lalu menjual hasilnya kepada penadah, itupun jika buah dan bijinya bagus. Hasil yang terjual tersebut dijual dengan harga yang tidak tinggi, bisa mencapai Rp5000 untuk 1 kg biji, paling tinggi sekitar Rp27.000 per kg biji. Selanjutnya hasil tersebut dijual kepada pihak yang tidak tahu siapa mereka.

Namun, dengan adanya pabrik mini dengan mesin pengolahan cokelat yang dihibahkan oleh pemerintah, petani seakan mendapat alasan untuk meningkatkan kualitas dan penjualan hasil tanaman kebunnya tersebut. Kebiasaan pengolahan yang sebelumnya biasa saja, kini disertai dengan proses fermentasi, sehingga dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi, yakni mencapai Rp40.000 per kg.

Pasta Lunak - Mesin-mesin yang tergabung dalam kelompok
mesin pengolah cokelat menjadi pasta lunak. Rangkaian
mesin ini digunakan setelah pengolahan biji menjadi pasta
keras selesai pada rangakaian mesin sebelumnya. 
Ya, perlu diketahui, untuk dapat diolah menjadi cokelat yang lezat dan kualitas yang baik, biji kakao harus mengalami fermentasi terlebih dahulu. Namun, hal tersebut sebelumnya belum dilakukan oleh petani akibat belum adanya wadah jelas sebagai alasan mengapa harus ada fermentasi. Kehadiran mesin pengolah cokelat pada beberapa titik di daerah Sumatera Barat, seakan memberi satu pandangan baru bagi petani untuk mendapatkan pemasukan yang lebih, meski harus menunggu waktu sekitar 5-6 hari lebih lama untuk melakukan fermentasi sebelum biji dijual dan diolah. Terang saja ini menjadi harapan besar bagi petani untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Manfaat selanjutnya ada pada produk yang dihasilkan, yaitu cokelat, dalam berbagai bentuk sajian seperti bubuk untuk minuman, permen, cokelat batangan, dan untuk adonan makanan lainnya. Ini tentu menakjubkan, hasil pertanian lokal ternyata bisa menjadi produk yang selama ini menjadi favorit banyak kalangan. Tentu saja, ini menjadi potensi yang besar bagi pendapatan daerah.

Hasil olahan yang menjadi produk cokelat tersebut pastinya menghadirkan satu ciri khas dari daerah tersebut. Pemikiran yang terlintas ialah “Cokelat ini asli dari Sumatera Barat!” dan jika sudah demikian, banyak sektor yang juga bisa tertopangi dengan lebih baik. Salah satunya sektor pariwisata yang juga sedang dikembangkan pesat oleh pemrpov Sumbar. Dengan adanya produk khas yang beragam (tidak hanya keripik dan makanan pedas tradisional lainnya), tentu aka nada variasi yang bisa dibawa dari Sumatera Barat sebagai destinasi wisata. Apa lagi, cokelat merupakan makanan yang dianggap sangat modern dan mengglobal. Pasti keren!

Kemasan - Salah satu produk yang
dikemas dan dipasarkan dengan brand
"Adam Cokelat"
Dan, ya, itu memang sudah dilakukan oleh beberapa produsen yang telah menggeluti produksi cokelat ini. Salah satunya pabrik mini cokelat di Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, dengan produknya bernama Adam Cokelat. Setiap perhelatan kebanggaan Sumatera Barat “Tour de Singkarak” berlangsung, pengelolanya yang berkoordinasi langsung dengan pemerintah setempat senantiasa menyalurkan produk-produk cokelat kepada para peserta tour yang merupakan masyarakat mancanegara. Tentu ini sangat membanggakan. 

Adam Cokelat, juga ternyata menjadi sebuah brand produk pertanian kebanggaan Kabupaten Padang Pariaman. Selain dijajakan langsung di pabrik mini di Sintuak Toboh Gadang, produk Adam Cokelat pun disalurkan ke beberapa tempat seperti Cafe Rindu yang dimiliki oleh pengelola pabrik, meski berlokasi jauh dari pabrik.

Ice Chocolate - Minuman Cokelat dingin merupakan
satu produk yang dapat disantap pada sebuah
gerai penyedia hasil olahan kakao Padang Pariaman,
Sumatera Barat, yaitu Lapau Cokelat. 
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman memberikan sejumlah kesempatan bagi pihak "Lapau Coklat", sebuah brand kedai yang memperdagangkan hasil olahan asli daerah tersebut. Nama yang jelas tersebut membuat orang-orang tahu, bahwa tempat untuk menikmati khasiat dan kelezatan kakao Sumatera Barat ada di Lapau Coklat. Dengan menjajakan produk yang sama, Adam Coklat, kedai ini mampu meraup keuntungan dengan dominan pembeli dari luar negeri seperti dari Cina dan India. 

Upaya pendukung sektor pariwisata, itulah yang menjadi sasaran empuk bagi setiap daerah yang mengembangkan pengolahan cokelat Sumatera Barat ini. Sebagaimana yang juga ditargetkan dan diprogramkan oleh cokelat olahan pabrik mini Bungus Agro yang dikelola oleh Gabungan Kelompok Tani Kelurahan Bungus Timur, yang berada di Kecamatan Bungus, Kota Padang. Dengan pabrik yang baru berdiri dan beraktivitas kurang dari setahun, produk yang dikembangkan memiliki brand “Taraso”.

Pabrik Mini - Gedung rumahan kecil tempat bernaungnya
mesin-mesin pengolah kakao yang dipakai oleh Gapoktan
Bungus Agro, yang memproduksi cokelat dengan brand
"Taraso".
Bicara rasa, wah, saya sebagai penulis sedikit ragu. Saya ragu untuk menjelaskan bagaimana luarbiasanya kelezatan cokelat asli tanah Sumatera Barat, dan diolah oleh orang lokal pula. Saya takut tak cukup kata-kata untuk mendeskripsikannya. Aduh, terdengar ‘lebay’ ya? Tapi, ya memang begitu adanya. Anda wahai pembaca silakan coba sendiri, ini adalah buah surge dunia yang ada di tanah Indonesia!

Mungkin perlu sedikit dijelaskan juga mengenai cita rasa cokelat ini. Dengan tersedianya mesin pada pabrik mini yang dialokasikan oleh pemerintah tersebut, masyarakat tani atau pengelola ternyata mampu mengolah buah kakao menjadi kuliner cokelat yang kualitasnya sesuai harapan, bahkan jauh di atas makanan cokelat yang dijual pada umumnya, termasuk yang katanya diimpor dari luar negeri.

Dengan mesin-mesin tersebut, buah kakao diolah sebagaimana mestinya santapan cokelat yang sehat, bergizi, bahkan mengobati, dan minim resiko penyakit. Persoalannya, ternyata cokelat-cokelat dikonsumsi di Indonesia yang bersumber dari produk impor dari luar negeri selama ini, kebanyakan bukanlah menyerap elemen terbaik dari biji kakao. Tak hanya itu, lemak yang dicampur untuk pengolahannya bukanlah lemak asli cokelat yang didapat dari proses fermentasi. Produk cokelat mainstream yang dipasarkan saat ini hampir semuanya menggunakan campuran lemak nabati (bukan cokelat) dicampur dengan gula yang sangat banyak.

Cokelat Sehat - Dengan kandungan gula yang sedikit diban-
ding produk cokelat pasaran lainnya, serta komposisi cokelat
yang dominan, makanan ini diyakini sangat sehat, dan tidak
beresiko jika dikonsumsi dalam jumlah banyak. 
Memang ada beda rasanya? Jelas! Setiap kita harus bisa mencoba hasil olahan yang sebenar-benarnya cokelat dari buah kakao, mana yang sudah mengalami banyak campuran-campuran termasuk kadar gula yang banyak. Ada perbedaan kelezatan dan kegurihan yang dapat dibandingkan. Maafkan saya yang belum bisa mempersuasi imajinasi pembaca sekalian. Untuk referensi, penulis hanya bisa memberi gambaran cokelat dari Singapura yang biasa jadi oleh-oleh. Maaf, rasanya lebih enak dari itu!

Dan perlu kita pahami lagi bahwa makanan atau minuman cokelat yang menurut beberapa artikel luar negeri sangat menyehatkan, memanglah menyehatkan. Ada kandungan obat alami di dalamnya. Namun, itu berlaku untuk olahan yang sebenar-benarnya atau dominan cokelat, bukan yang sebagian besar kemanisannya dari gula buatan, dan campuran lemak buatan pula.

Maka dari itu, tak ada istilah lain selain “Incredible!”  untuk menggambarkan potensi inovasi yang masih terus dikembangkan oleh Sumatera Barat ini. Dengan luas tanaman kakao yang memadai, disertai mesin pengolah yang direncanakan terus mengalami penambahan, taka da keraguan bahwa hasil pertanian Sumatera Barat akan menjadi komoditi terbesar di daerah ini, dan bisa dimanfaatkan tak hanya untuk masyarakat setempat, tapi juga untuk Indonesia!

Segala inovasi yang ada tentu bertujuan demi taraf hidup yang lebih baik lagi. Sangat diharapkan bila hasil-hasil yang ditunjukkan oleh pabrik-pabrik yang sudah ada dapat memberikan nafas lega dan senyum lebar bagi petani, apa lagi jika mampu mendatangkan investor dan donatur, yang akan bersama membantu kebutuhan masyarakat dalam pemanfaatan tanaman kakao ini.

Semoga, semoga dan semoga, kabar baik yang beredar ini mampu memotivasi semua daerah di Indonesia. Pastinya, semua harapan muncul membutuhkan optimisme yang kuat dan kerja sama antara kita semua. 

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku


Kamis, 05 November 2015

Besok Kamu Harus Datang ke Wisudaan Aku


“Eh, kamu harus datang ke wisudaan aku ya, awas kalo nggak”

Kutipan di atas merupakan bagian dari dialog sebuah pertemanan yang salah satunya akan diwisuda, dan satunya lagi belum diwisuda. Bukan hal yang aneh lagi kalau dalam suatu pertemanan ada yang wisuda duluan dan ada yang tidak duluan.

Namun, sebagai warga negara yang memegang dasar negara yang salah satu poinnya “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, itu jelas tidak adil. Mengapa?

Kejadian seperti ini menimbulkan rasa tanggung jawab akan janji seorang kawan terhadap kawan lainnya untuk hadir di wisudaan dan memberi kado berupa bunga atau yang lain, lalu berfoto yang menunjukkan turut bersuka cita. Dalam kebahagiaan ini tentu ada harapan, baik terucap atau tidak, kepada rekan yang diwisuda saat itu untuk hadir.

Kalau yang terucap, kira-kira nadanya begini:

“Nanti pas aku wisuda kamu juga harus hadir ya”
dan jawabnya begini:
“Iya tenang aja lah kapanpun kamu wisuda aku hadir, kabari aja”
Tapi tak jarang juga ada yang tidak menjawab karena ragu, atau setidaknya menjawab begini:
“Iyaa ayo cepat-cepaaat,” sebuah jawaban yang tidak menjawab dan suasana seakan menjadi aman.

Ini dikarenakan yang diwisuda saat itu tak yakin dia akan hadir di wisudaan temannya itu. Sementara teman itu terus menaruh harapan teman-temannya hadir di hari dia terpaksa diwisuda.

Hari berlalu, teman yang tadi hadir di wisuda temannya pun diwisuda. Ini sudah sangat jauh dari hari di mana dia menjadi orang yang membawa kebahagiaan di hari wisuda. Yang sangat disayangkan, teman yang dulu wisudaannya ia datangi, tidak hadi dalam wujud aslinya bukan berupa hadiah yang dititipkan atau ucapan selamat di media sosial.

Adilkah itu? Rekan-rekan bisa menjawab sendiri nanti.

Bahkan di kampus saya dulu (Universitas Padjadjaran), kemungkinan janji-janji dan harapan itu terjadi di masa periode wisuda yang sama. Saya jelaskan, wisuda di Unpad biasa terdiri atas 3 atau 4 hari yang masing-masing harinya menyertakan wisudaan beberapa fakultas. Dengan demikian, ada yang lebih dahulu diwisuda sehari atau dua hari.

Kasusnya begini, ada dua orang sekawan yang diwisuda pada periode yang sama namun beda hari. Si A wisuda pada hari Selasa, si B wisuda pada hari Rabu. Si A meminta si B untuk hadir di wisudaannya pada Selasa itu, si B memenuhinya karena hari Selasa itu dia tidak begitu sibuk dan (bisa jadi) karena orang tua serta keluarganya belum hadir ke tempatnya menginap (karena dia perantau) atau mungkin karena dia asli orang Bandung yang menyebabkannya fleksibel untuk hadir kemana-mana di H-1 wisudaan.

Namun, saat si B wisuda, si A tak dapat hadir karena dia menikmati hari-hari bahagianya sebagai sarjana bersama keluarga, entah itu di rumah atau keluar kota. Sebelumnya, si B telah meminta A untuk hadir, namun A tidak menjawab dngan jelas  Adilkah ini?

Ada lagi kasus begini. ini cerita si L dan si M. Si L wisuda pada hari Kamis, sementara si M wisuda pada hari Jumat. Saat si L wisuda, si M tidak hadir, padahal telah diminta oleh si L. Alasannya, si M menanti kedatangan orang tua atau mempersiapkan segala sesuatu untuk hari wisudanya. Esoknya, wisudaan si M dihadiri oleh si L yang beberapa hari juga diminta hadir oleh si M. Mereka saling meminta untuk meramaikan. Adilkah ini?

Ada lagi kasus-kasus lain yang terjadi pada prosesi wisuda seperti itu yang tak sempat dituliskan seperti ini. Kasus-kasus seperti yang saya ceritakan di atas juga bisa terjadi di kampus-kampus lain.

Dari hal-hal tersebut lantas saya berpikir. Haruskah seorang teman hadir meramaikan wisudaan temannya yang lain. Lalu siapa teman yang akan menghadiri dan meramaikan wisudaanya ketika ia wisuda di ujung masa batas perkuliahan, di mana kala itu rekan-rekan semasa kuliahnya entah di mana, kerja dengan karir yang terus menanjak sejak tiga tahun lalu atau tengah kuliah doktor di luar negeri?

Apakah sila ke-5 Pancasila berlaku pada hal seperti ini? Oh ya, mungkin ada yang ketika membaca tulisan ini lantas berkomentar “Ah itu doang, serius amat. Santai kalii, masa dikaitin sama Pancasila, kaku amat”.

Terserah mau komentar apa, tapi ini harusnya jadi suatu renungan. Renungan soal persahabatan, perkawanan, atau hubungan lainnya. Kita berkata kesetiaan, berkata kebahagiaan, tapi ternyata semua itu hanya untuk pribadi semata. Kita lupa kebahagiaan orang lain yang juga akan bahagia dengan kehadiran kita, yang telah dijanjikan, atau setidaknya diminta oleh orang tersebut.

Apa lagi sekarang, kebahagiaan bisa diukur dengan publikasi di media sosial masing-masing. Hampir semua pemuda atau sarjana kekinian, setidaknya ada satu foto ditampilkan sebagai bukti dia berbagaia. Yang paling menyenangkan tentu dengan kawan-kawan yang banyak, yang mungkin saat itu ada yang belum dapat melaksanakan wisuda.

Sedikit menyimpulkan, dari kasus terkait keadilan dan kebahagiaan tersebut, ada baiknya jika wisuda hanya dihadiri oleh orang tua dan keluarga. Atau, jika ingin diramaikan oleh kawan-kawan, tepati pulalah janji untuk hadir di wisudaan yang baru akan wisuda di masa akan datang. Bahkan, jika bersedia, jadilah orang yang mampu membantu meluapkan kebahagiaan kawan-kawan yang wisuda di masa “injury time”, walaupun anda tidak dekat, atau tidak saling mengenal.

Sekian, ini bukan satu hal yang menggurui, tapi hanya renungan bagi semua, terutama penulis sendiri. Apa lagi bagi kawan-kawan yang masih menikmati masa perkuliahan saat ini. Percayalah semua itu akan kawan-kawan hadapi. Faktanya, penulis telah gagal dalam menghadiri beberapa wisudaan rekan-rekan yang sebelumnya sangat berharap dihadiri untuk menambah rasa bahagiannya. Mohon maaf bagi semua kawan-kawan. Semoga kita sukses slalu.

Selasa, 03 November 2015

Adu Domba dengan Anak Dalam demi Alihkan Perhatian

Musibah asap yang hampir melanda seluruh Indonesia sepertinya perlahan berkurang. Semoga saja itu pertanda bahwa: jika itu azab, berarti dosa umat di Indonesia sedikit terampuni; jika itu ujian, berarti sejumlah umat perlahan semakin kuat imannya.

Namun, ada yang perlu dicermati dari kejadian baru-baru ini. Apa itu? Yakni, satu hal yang memancing pertanyaan besar bagi saya, “Mengapa orang-orang ramai mempersoalkan Jokowi dan Suku Anak Dalam?”. Kunci utamanya memanglah ada yang bertujuan mencerca Jokowi, ada yang bertujuan membela Jokowi.

Namun, saya memikirkan satu hal yang beda. Saya mengilustrasikannya dengan dialog berikut.

A: Yang shalat Istiqa makin banyak, hujan perlahan banyak turun.
Asap perlahan hilang.
B: Wah iya, Jokowi tak lagi disalahkan, tak lagi jadi perhatian utama.
A: Ini bisa gawat, perhatian akan teralihkan pada lahan yang sudah terbebaskan.
B: Lalu bagaimana? Ada ide. Kita harus mengalihkannya lagi.
A: Saya kemaren lihat Jokowi foto dengan suku anak dalam. Kita bisa mengolahnya.
B: Mantap!

(Beberapa hari kemudian)
A: Lihat ini, sudah ada yang mempersoalkan.
B: Keren. Sekarang sajikan foto-foto dan fakta lain yang bisa membuat mereka berdebat.
A: Siap.

(Beberapa jam kemudian)
A: Wah keren, ada yang membela! Mereka berdebat!
B: Bagus. Lanjutkan langkah kita selanjutnya lahan ini harus segera jadi, hingga mereka mengakui potensi ini.
A: Setelah semua terlihat indah, maka kita akan terbela.
B: GREAT!

Itu hanya ilustrasi. Ini bukan sebuah fakta tentunya, dan bukan berarti saya suuzon. Inihanya sedikit dugaan bahwa sepertinya demikian yang terjadi. Hujan semakin banyak, asap semakin berkurang, kita bisa segera usut persoalan kebakaran hutan lebih lanjut, bukankah itu yang kita inginkan kemarin-kemarin? Tapi sekarang kita malah memperdebatkan suku anak dalam, hingga memuaskan hasrat untuk mengkritik dan membela Jokowi secara buta. Sehingga, perhatian hanya untuk ini semata.

Saya pun sadar, mungkin ini pula pola yang diterapkan pada kasus-kasus sebelumnya. Jika benar, kasihan Jokowi, selain dicaci terus, dia juga menjadi bahan pengalihan perhatian dengan segala bentuk skenario.

Tapi jangan dipercaya dulu, ini hanya suatu pandangan pribadi yang....husnuzon dengan cara suuzon. Maksudnya, saya berpikir buruk terhadap orang lain agar saya bisa berpikiran baik terhadap satu persoalan yang harusnya bisa teratasi dengan baik. 


Jumat, 23 Oktober 2015

Membangkit Ekonomi dengan Film, Mampukah?

Kondisi nilai tukar rupiah yang semakin terpuruk terhadap dollar Amerika Serikat membuat masyarakat sangat kalang kabut. Segala aktivitas perekonomian menjadi goyah dan melemahkan ekonomi itu sendiri. Jika ditunggu, pemerintah sendiri tidak dapat memastikan kapan rupiah akan memperlihatkan titik kebangkitannya untuk kembali memanjakan ekonomi masyarakat.
Jelas, menunggu bukanlah jawaban. Sebaiknya ada banyak rencana dan langkah yang ditempuh oleh masyarakat terutama pemegang kebijakan perekonomian. Perencanaan dan langkah tersebut tidak serta merta dilakukan oleh pusat, tapi bisa dimulai oleh pemerintah daerah dengan menggalakkan berbagai inovasi kebijakan. 

Salah satu film karya anak Minangkabau teranyar

 Ada banyak peluang yang mesti dilirik dan dikembangkan. Di Sumatera Barat, salah satu potensi yang dapat dilajukan ialah perfilman. Aktivitas ini bagaikan anak emas yang harus mencari kehidupan sendiri karena diabaikan oleh orangtuanya. Perfilman dibiarkan berjalan sendiri. Perfilman merupakan harta karun terpendam di ranah Minangkabau.
Darimana kita bisa melihat potensi perfilman di Sumatera Barat? Banyak yang dapat dijadikan acuan. Sila akses situs Youtube, di sana banyak beredar film berdurasi panjang maupun pendek (mini film) yang merupakan karya anak Minangkabau dan berlatar di ranah Sumatera Barat. Belum lama ini, beredar pula film yang sangat menunjukkan adat budaya Minangkabau, berjudul ‘Salisiah Adaik’, karya sineas asli Minangkabau.
Satu hal lagi yang perlu disadari, sejumlah film nasional yang beredar di Nusantara beberapa tahun terakhir dibuat berlatar belakang Minangkabau. Sebut saja Merantau, yang kental dengan budaya terutama seni bela diri Miangkabau. Jauh lebih luar biasa, ada Di Balik Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijk yang naskahnya sendiri berasal dari buku karangan putra ternama MInangkabau, Buya Hamka. Sangat terbukti, sineas nusantara menaruh nilai lebih pada Sumatera Barat atau Minangkabau.
Hendaknya hal ini dipahami bahwa Sumatera Barat bisa juga membesarkan hal tersebut secara mandiri. Berbagai ide cerita dari kisah-kisah tambo dan legenda banyak yang bisa diangkat oleh sineas Minangkabau. Semua bisa dikemas menarik dan sangat menjual di kalangan nusantara. Film yang terbangung menjadi sangat kaya, ada pesan dan ada pedapatan.
Nah, bicara pendapatan, memanglah sebuah fakta bahwa film mampu membuka kebangkitan perekonomian. Bukti nyata dilakukan oleh Amerika Serikat. Menurut sejarahnya, kebangkitan Negara adi daya ini pada masa pasca Perang Dunia II disokong kuat oleh industri perfilman. Berbagai genre film terutama komedi, drama dan petualangan ditingkatkan kemudian dipasarkan.
Tak hanya itu, sejarah tersebut terulang pada tahun 2008, masa-masa di mana ekonomi AS mengalami keterpurukan. Berkisar pada 2008-2009, AS kembali menggenjot industri perfilmannya yang berpusat pada Hollywood. Memang tak tanggung-tanggung, mereka membuat karya film dengan cerita dan kualitas gambar yang luar biasa. Bahkan, mereka membuat sejumlah film animasi hebat.
Dari 2008 hingga 2015, hal itulah yang digalakkan AS. Dengan film, ternyata AS memfasilitasi pemasaran terselubung untuk produk-produk asal Negara tersebut. Pada kisaran tahun inilah dimulainya pengiklanan secara unik yang membuatnya terpampang hebat dalam jalannya cerita film. Film-film Hollywood mengundang berbagai produk untuk beriklan dalam film. Praktik ini pun diterapkan oleh beberapa film di Indonesia.
Tak ada masalah jika hal tersebut juga dilakukan di Sumatera Barat. Dengan potensi yang besar, bukan suatu hal yang mustahil perfilman Sumatera Barat mampu menjadi jauh lebih berkembang dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Apa lagi, sudah banyak pemuda yang memulai industri kreatif ini.
Bayangkan saja pada film-film karya anak Sumatera Barat tersebut ada berbagai produk lokal asli buatan masyarakat. Ini tentu akan menjadi suatu simbiosis mutualisme di antara berbagai pihak. Setidaknya, produk-produk industri atau usaha kecil dan menengah lokal bisa dikenal di seluruh wilayah Sumatera Barat. Masyarakat pun dimanjakan dengan pampangan sejumlah barang yang meningkatkan keinginan untuk memilikinya. Ini juga akan meningkatkan daya saing dan kreativitas para produsen.
Tak hanya itu, sejumlah seniman selain filmmaker seperti musisi dan perancang busana pun bisa turut andil bekerja sama dalam pembuatan film. Hasil karya mereka pun ikut terpromosikan dalam setiap film. Begitu juga dengan pemilik tempat-tempat (venue) shooting yang kemudian akan tereferensi pada film yang telah siap dipertontonkan. Sejumlah tempat wisata pun bisa ikut terjual.
Bukan satu hal yang mustahil pula produk-produk yang terpajang pada setiap film hadir sampai ke ranah nasional, bahkan internasional. Film-film yang dihasilkan bisa perlahan menuju jenjang perluasan jangkauan tersebut. Setiap elemen mendapatkan keuntungan, baik filmmaker maupun produsen.
Begaimana semua hal tersebut bisa terwujud? Semua butuh sistem, jelas. Namun, satu hal yang harus dilakukan ialah memulai dari yang kecil. Setiap elemen yang ingin bergerak sangat dipersilakan bergerak tanpa terus termenung menunggu bantuan atau dukungan pemerintah. Mulai dari produksi film berdurasi sekitar 15 detik-1 menit, hingga film panjang bahkan film sequel.
Seperti yang dimulai oleh para pelajar dari program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, di bawah bimbingan Devy Kurnia Alamsyah selaku pengajar di kampus tersebut. Para mahasiswa dari kampus ini beberapa waktu lalu melakukan pembuatan beberapa film pendek yang kemudian akan disajikan untuk umum dalam kumpulan film yang disebut ‘omnibus’. Sekitar enam film segera ditampilkan di salah satu bioskop ternama di Kota Padang dengan tarif yang sangat terjangkau.
Karya-karya tersebut pantas untuk mendapat apresiasi. Terlepas dari penilaian hasil karya penonton setelah menyaksikan setiap detik pada film tersebut, hal yang paling patut diapresiasi dan didukung secara positif ialah kemampuan untuk memulai. Memulai ialah suatu hal yang cukup berat, untuk kemudian melanjutkan dan menginsipirasi banyak pihak.
Karya anak muda tersebut menjadi suatu titik terang bagi Sumatera Barat untuk terus berkembang dan maju, terutama mewujudkan impian menjadi basis perfilman Indonesia yang terinisiasi oleh sebuah grup Facebook bertajuk ‘PadariamWood’. Belakangan ini ‘PadariamWood’ hadir sebagai grup yang menampung aspirasi dan semangat masyarakat untuk perfilman Sumatera Barat, untuk bisa bersanding dengan Hollywood dan Bollywood.
Bukan suatu mimpi besar yang berupa bualan semata pula, karena sejarahnya perfilman Indonesia memang ditumbuh-kembangkan oleh orang asal Sumatera Barat. Dialah Djamaludin Malik, pria kelahiran Padang, 13 Februari 1917 yang kemudian dinobatkan sebagai Bapak Industri Film Indonesia. Dialah penggagas Festival Film Indonesia.
Jadi, tidak mustahil pula jika tangan dingin pria yang menghadirkan keindahan perfilman di Nusantara tersebut terulang kembali dari tanah kelahirannya. Semangat kreativitasnya di masa lalu dapat menjadi sebuah inspirasi untuk terus berinovasi. Tunggu apa lagi? Kita punya banyak sejarah, kita bisa belajar dari sejarah, kita bisa membuat sejarah. Setelah itu, kemajuan perfilman juga segera pengaruhi kebangkitan perekonomian.

Selasa, 20 Oktober 2015

Padang, Andai Saja 'Perbedaan' dapat Hidup di Sini...

Padang kota tercinta, kujaga dan kubela. Itu lirik lagu yang menjadi doktrinasi  bagi anak-anak sekolahan. Eh, itu dulu, enam tahun lalu saat saya masih jadi anak cupu berseragam putih abu-abu. Sekarang masih cupu sih. Dan, gak tau sekarang gimana, masih dinyanyikan atau tidak.


(foto dari beritasatu.com)

Ketika harus merantau untuk kuliah, ternyata memang lagu itu memberi doktrin kuat bagi sebagian orang. Buktinya, banyak yang rela tiap tahun, atau tiap semester, atau tiap bulan pulang ke Padang dari tanah Jawa (kaya amat ya).

Selain itu, ada juga yang akhirnya membulatkan tekad ingin membangun kota ini suatu saat. Salah satunya, saya.

Pulang ke Padang sekali setahun memberi saya inspirasi harus diapakan kota ini, karena melihat perbedaan dengan kota lain, kekurangannya apa, dan kesesuaiannya apa untuk menjadi kota yang…. tak perlu maju, tapi cukup menyenangkan, hingga nanti perekonomiannya menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia.

Namun, beberapa tahun terakhir, saya menyaksikan perkembangan pesat kota ini. Hmmm, secara konotatif dan denotatif, kota ini menyerupai BANDUNG. Semua bisa dilihat dari kreativitas para muda-mudi di sini.

Apa lagi, ada banyak kafe yang katanya bisa jadi tempat nongkrong seperti di Bandung, tapi nyatanya tidak, beberapa pelayan kafe sering memberi tanda kalau pelanggannya sudah kelamaan di sana, dan akhirnya pelanggan hanya menggunakan kafe cantik itu sebagai tempat berselfie lalu mempromosikan tempat itu. (itu kalimat panjang banget, gak efektif, pahami saja yah).

A Create Padang, menjadi salah satu simbol yang memperlihatkan perkembangan kota ini di tangan muda-mudi, terutama kreativitasnya. Dulu, saya sudah mengenal gemerlap dan sedikit kekerenan kota ini dengan banyaknya mususi muda yang mampu memainkan lagu-lagu rock band metal seperti musisi aslinya, termasuk saya, ehm (gak lah, becanda). Sekarang, semua merambah ke banyak kreativitas lagi.

Acara tersebut menunjukkan banyak muda mudi kreatif, baik di dunia musik, desain grafis, lukisan, karya visual 3D, sinematografi, fotogragi, enterpreneurship berupa pakaian dan minuman, dan beberapa yang lainnya. Saat itu, di sana, Padang bagaikan Bandung, mirip Bandung. Di sana saya memuji karya ini, namun menyayangkan hal ini belum didukung oleh pemerintah.

Ada apa gerangan? Saya perhatikan semua hal yang ada di venue tersebut dan memikirkan apa yang ada di pikiran pemerintah dan masyarakat, serta muda-mudi lainnya?

Kemudian saya berhipotesis, yang saya tumpahkan dalam judul tulisan ini, yaitu ternyata Padang, belum menerima perbedaan. Mengapa demikian?

Tempat yang menyajikan kreativitas anak muda tersebut pada siang itu hanya dipenuhi oleh anak muda yang ngikutin trend kekinian. Hampir semua menggunakan gaya pakaian yang sama, atau setidaknya punya gaya kelompok masing-masing yang juga ngikutin gaya orang lain di luar sana. Contoh kecilnya, saya menemukan sedikit orang menggunakan sendal, seperti yang saya lakukan saat itu.

Contoh lainnya, dikatakan cinta Padang, tapi mereka tidak satupun yang mencoba berpakaian adat Minangkabau. Ribet? Tidak, ada yang sederhana pemakaiannya. Bahkan musik yang dimainkan dominan pada rock kekinian penuh nada pemberontakan yang katanya semangat. Ada sih ‘pop lunak’, tapi masih ngikutin tren nasional dan internasional.

Satu lagi, bertajuk A Create, sebenarnya ada baiknya jika mengikut sertakan komunitas lain yang juga bergerak untuk bidang sosial lainnya, termasuk perhatian kepada anak-anak dan budaya.
Dari contoh-contoh tersebut, saya secara sepihak menjustifikasi, bahwa perbedaan belum bisa diterima secara baik di kota ini. Dominasi kelompok untuk mengatakan mereka yang paling oke masih kuat, yang beda masih tersisihkan dalam kesendirian (assik, galau amat).

Cemoohan yang tak mendidik masih kuat sana sini. Cemooh itu penting, untuk menjaga masyarakat dari norma-norma yang tidak baik. Namun kini cemooh yang bertujuan positif terkikis, dan muncul cemooh yang menjatuhkan orang-orang yang ingin berkreasi untuk kota tercintanya itu. Hasilnya, perbedaan susah diterima.

Barangkali itu juga yang membuat pemeritah setempat belum terketuk hatinya untuk mendukung penuh kreativitas anak-anak muda di acara yang digelar di Lanud Padang tersebut. Jika dia mendukung, tentu akan ada tindak lanjut yang mumpuni (mantap!).

Padang, dari dulu kota ini punya jutaan orang dengan isi kepala masing-masing, passion masing-masing, dan kreasi masing-masing. Tapi semua diam dan angkuh di dalam kemasing-masingannya, hingga enggan untuk mengeksplor lebih jauh, dikarenakan adanya kesulitan untuk menerima perbedaan di kota ini.

Andai semua terkoordinasi dengan baik, terfasilitasi dengan baik, dan terapresiasi dengan baik oleh masyarakat, termasuk para pihak yang punya pemikiran masing-masing itu, tentu Padang sudah jauh lebih maju dari sekarang.

Lalu, bagaimana cara mengubah hal tersebut? Saran sederhana dari saya: pertama tindakan dari pemerintah, kedua konsistensi dari para pemikir dan anak-anak muda yang kreatif untuk terus berkarya, ketiga doktrinasi melalui berbagai media yang dapat mengubah cara berpikir dan berprilaku masyarakat yang hidup ‘setengah sadar’ itu perlahan-lahan.

Sekian, ini hanya ocehan, kalau terinspirasi sangat diperbolehkan.

Jumat, 16 Oktober 2015

Generasi 90-an, Generasi Gagal!



Zaman terus melaju, generasi terus berkembang setiap tahunnya, setiap bulan, dan setiap hari. Perkembangan generasi tak menutupi kemungkinan perbedaan yang terjadi di setiap masanya antara satu generasi dengan generasi.

Beberapa tahun ke belakang, terdapat hal yang lumrah terdengar di telinga saya perihal perbandingan generasi. Dengan berbagai landasan yang ada, generasi 90-an, demikian sekelompok orang menyebutnya, dianggap sebagai generasi terbaik terutama oleh orang-orang yang lahir atau tumbuh pada rentang waktu tersebut.

Sejumlah nostalgia masa kecil dimunculkan untuk mengenang indahnya masa-masa pertumbuhan generasi 90-an yang secara narsis mengatakan itulah hal terbaik yang hendaknya dilakukan anak-anak. Mereka membandingkan dengan generasi setelahnya, generasi 2000-an dan 2010 ke atas, dengan dominan mengacu kenikmatan masa kini yang tidak indah, sebut saja gadget yang memanjakan.

Orang-orang generasi 90-an secara tidak sengaja juga membandingkan diri mereka dengan generasi sebelumnya, yang hampir dikatakan sangat ketinggalan akan kehadiran teknologi. Dengan kata lain, generasi 90-an mendapatkan dua kenikmatan yang seimbang: teknologi dan tradisional. Ini dianggap sebagai pemicu besar keindahan yang dielu-elukan, yang berdampak pada proses pemikiran para personel generasi tersebut.

Memang, jika membandingkan generasi 90-an dengan generasi 2000-an ke atas, ada satu gap yang sangat memilukan. Anak-anak zaman kini terlalu dimanjakan teknologi yang semakin canggih dan hidup dalam gegap gempita media massa yang tak mendidik. Hasilnya memang buruk, banyak anak yang bersikap sangat manja, gap perekonomian terlihat signifikan, dan kecerdasan cenderung menurun, terutama dalam bersosial. Sementara generasi 90-an merasa paling kreatif.

Akan tetapi, sadarkah bahwa di balik narsisme generasi 90-an dan perbandingan dengan generasi setelahnya itu terdapat sebuah kegagalan? Ya, generasi 90-an adalah generasi yang gagal. Kenikmatan nostalgia dan indahnya masa lalu membuat mereka terlalu bangga, hingga lupa harus bertindak apa. Mereka tak mampu berbuat banyak untuk bisa mewariskan kenikmatan tersebut kepada generasi setelahnya.

Berbagai upaya memang telah dilakukan seperti sindiran-sindiran atau hal lainnya yang berupaya menyadarkan akan kenikmatan tersebut, tapi mereka lupa bahwa generasi 2000-an bahkan tidak membayangkan di mana letak nikmatnya hal-hal tersebut. Mereka tidak mengalaminya, wajar mereka tidak mengerti. Apa lagi, dominasi komunikasi dengan teknologi membuat mereka cenderung sulit memahami bahasa sindiran.

Pasalnya, kebanyakan atau setidaknya sebagian generasi 90-an tentu memiliki adik atau sepupu yang bisa ditularkan bagaimana indahnya masa mereka dulu. Mereka bisa bermain bersama. Selain itu, generasi 90-an yang cenderung lebih dewasa dan lebih paham berteknologi dibanding generasi sebelumnya harusnya bisa memberi masukan akan dampak-dampak yang akan muncul.

Ya, kesimpulannya, generasi 90-an seharusnya menjadi lakon perbaikan tingkah laku generasi setelah mereka, bukan terhanyut dalam nostalgia penuh kebanggaan dengan embel-embel kata-kata "DULU KITA BEGINI YA, MEREKA SEKARANG..." atau "ANAK-ANAK SEKARANG EMANG GITU YA, BEDA SAMA KITA". Setidaknya, jangan menjustifikasi mereka jika tidak dapat berbuat banyak untuk membawa mereka ke arah kebaikan.

Tulisan ini tak lain juga menjadi catatan tersendiri bagi penulis (yang juga generasi 90-an) yang belum bisa apa-apa selain rasa iba pada adik-adik generasi pasca 90-an. Semoga suatu saat kita yang sadar bisa membuat pergerakan untuk melakukan perbaikan, atau setidaknya bekerja sama dengan generasi pasca 90-an untuk membentuk generasi yang lebih baik.


Sabtu, 10 Oktober 2015

Melawan Potensi Pengalihan Isu

Halaman depan Republika (8/9/2015)


Salah satu problem media massa saat ini ialah tidak adanya kuda-kuda yang kuat dalam menerapkan salah satu elemen jurnalisme 'komitmen kepada masyarakat dan kepentingan publik'. Kelemahan kuda-kuda tersebut terwujud pada sikap yang mengikuti kemana arah angin berhembus, semata-mata hanya ingin mengejar popularitas dengan kecepatan menyajikan berita.

Buruknya, berita baru yang dikejar akan terus diburu sedalam-dalamnya dengan batasan kehadiran isu baru yang lebih panas lagi. Akibatnya, berita yang tadinya dipanaskan tidak berujung pada suatu 'pendinginan otot-otot' atau sejenis konklusi yang mampu menggiring masyarakat untuk membawa ke pemikiran positif. Khalayak digantung pada banjir informasi yang membuat mereka bingung mau melakukan apa. Ini menyebabkan pesimisme karena melihat banyak persoalan dan tidak tahu harus membereskan mulai dari mana.

Inilah karakter yang dominan pada media-media massa di Indonesia saat ini. Kebaruan selalu dikejar membabi-buta, tanpa proporsional dengan berita-berita sebelumnya yang butuh tindak lanjut dari masyarakat dan pemerintah, namun tidak mendapatkannya.

Menurut pantauan penulis kala pernah mengalami sebagai wartawan, hal tersebut lumrah terjadi pada wartawan Indonesia karena yang tertanam di benak mereka ialah kecepatan akses informasi, seiring meningkatnya kompetensi antar media massa, terutama dengan media massa online. Kecepatan pemberitaan menjadi dewa dalam jurnalisme dewasa ini, sehingga wartawan cenderung mengikuti keberadaan berita baru, di manapun mereka berada dan apapun kondisi mereka.

Hasilnya, media massa menjadi sasaran empuk dan alat ampuh untuk menggiring opini serta pengalihan isu bagi pihak berkepentingan. Media massa merupakan salah satu elemen komunikasi politik, sudah sewajarnya, memang, media massa dimanfaatkan oleh para pelaku politik. Peranannya sebagai salah satu elemen komunikasi politik tersebut hendaknya dipahami agar tidak serta merta mengikuti nafsu dan akal bulus para politisi.

Setiap pemahaman teoretis yang membalut dunia jurnalisme semestinya berkaitan dan sistematis, dengan kata lain satu rusak yang lain juga akan terganggu. Begitu juga dengan poin elemen jurnalisme yang disampaikan di awal, dengan peranan media massa dalam komunikasi politik, karena politik juga berkaitan dengan khalayak (masyarakat). Namun, kondisinya saat ini, faktanya tidak semua wartawan atau pegiat media massa di Indonesia memiliki pemahaman dan sikap teoretis tersebut. Kecenderungan pada praktis membuat mereka harus (hanya bisa) mengikuti setiap pergerakan yang ada.

Meski demikian, tidak semua media massa memiliki kecenderingan mengikuti pengalihan isu yang dilakukan oleh para pelaku politik yang entah siapa itu dan di mana mereka berada. Masih ada media yang berusaha mengambil jalur berbeda untuk menerapkan apa yang mereka pahami. Masih ada yang konsisten membahas suatu persoalan secara proporsional dengan berita baru lainnya. Semua itu butuh pemilahan dan agenda setting yang baik.

Media massa yang cenderung melakukan perlawanan terhadap pengalihan isu biasanya ada pada majalah, karena mereka butuh kedalaman dalam pembahasan sebelum menyebarkan berita kepada khalayak. Salah satu yang paling kuat melakukan hal tersebut ialah majalah Tempo, yang kebanyakan edisinya tidak sesuai dengan isu yang panas dibicarakan oleh media lain. Agenda setting dilakukan sedemikian rupa untuk menjaga identitas dan kepuasan konsumen.

Beberapa surat kabar dan media elektronik pun banyak mencoba hal yang sama. Namun, pada umumnya usaha dilakukan pada framing berita yang disesuaikan dengan ideologi media masing-masing. Kontra-hegemoni yang dilakukan dominan berbentuk tulisan, yang membuat salah satu atau salah dua dari mereka terlihat berbeda. Akibatnya, terjadi perang pemahaman antara para mainstream dan si antimainstream lewat tulisan.

Sayangnya, perang tulisan tersebut tidak melulu dipahami oleh pembaca. Pasalnya, surat kabar dewasa ini begitu banyak dan membanjiri mata masyarakat. Masyarakat pun harus memilih, tak mungkin mereka membaca semua. Yang dipilih pun, haruslah yang menurut kebanyakan orang beritanya bagus, aktual, tajam dan terpercaya, yang jika sudah demikian susah untuk memperbarui referensi serta pengalaman kepada media lain. Ini menyebabkan tidak ada perbandingan di mata masyarakat. Lagi pula, tidak semua masyarakat ingin membandingkan isi berita, kecuali mereka pengamat media massa atau pemerhati dunia komunikasi.

Perbedaan yang dimunculkan oleh suatu media lewat tulisannya pun cenderung menjadi konsumsi sebagian konsumen setia yang dengan mudah percaya pada yang ditampilkan. Kebanyakan konsumen pun tidak memahami ada suatu pertarungan penyuguhan dan pemeliharaan isu pada media massa, sebelum diingatkan oleh orang-orang yang senantiasa memperhatikan.

Namun, ternyata pekan lalu ada suatu fenomena yang memberi banyak pesan tersirat, terutama pada keberlangsungan pertarungan penggiringan opini di antara media massa. Pekan lalu, ada suatu proses perlawanan terhadap pengalihan isu yang tidak dilakukan dengan tulisan lagi, melainkan dengan visual yang tak diduga-duga dan tentunya menggemparkan perhatian masyarakat.

Republika, Kamis, 8 Oktober 2015 lalu menghadirkan suatu yang berbeda. Masyarakat seakan ditampar untuk menyadari keberadaannya yang kala itu mencoba mengalahkan potensi pengalihan isu. 'Harga Solar Turun' harusnya menjadi judul berita headline serta pembahasan yang membuat khalayak pembaca terayun pada arah angin yang berubah lagi. Pembahasan yang sama juga terjadi pada media massa surat kabar lainnya.

Surat kabar ini dengan nekat menghadirkan sebuah ide yang gila dan aneh, yakni menutup judul berita yang diharapkan menjadi suatu hal yang penting tersebut. Tiga perempat halaman depan tersebut dibuat buram dengan warna abu-abu khas asap, menyisakan sebagian kecil di bawah dengan tampilan seorang anak bersepeda dan mengenakan masker, bak berusaha keras keluar dari selimut asap.

Sontak tindakan Republika ini mengundang perhatian khalayak masyarakat. Berita turunnya harga solar yang bisa membolak hati masyarakat seakan menjadi tak berguna. Republika menuai banyak pujian karena berusaha konsisten terhadap upayanya mengingatkan masyarakat lain bahwa kabut asap terus membelenggu dan semakin buruk, serta menerapkan peranannya sebagai pengontrol pemerintah. Republika berusaha menyadarkan banyak pihak.

Mungkin ini merupakan suatu uji coba terhadap sikap yang berbeda. Tak disangka, ternyata hal berbeda tetap dapat menampung perhatian, bahkan menariknya lebih banyak. Dalam konteks komoditas, Republika bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Barangkali, sikap surat kabar yang satu ini bisa menjadi inspirasi dan menyadarkan media lainnya, bahwa inovasi dalam menarik simpatik tidak hanya dari konten berita yang kemudian sering mendapat bumbu-bumbu berlebihan.

Dengan demikian, semua patut memahami dalam mendapatkan perhatian dan bertarung mengalahkan pengalihan isu tidak serta merta hanya dengan tulisan atau konten. Ada banyak elemen di media massa yang bisa dieksplor, terutama dalam tampilan visual, dan yang lainnya, termasuk kebijakan finansial.

Sikap Republika ini juga menjadi bukti bahwa ketika tulisan tidak lagi berdaya dan berkutik untuk perubahan, ada sarana lain yang menunggu untuk diutak-atik seperti desain grafis. Pasalnya, desain grafis atau karya grafis lainnya sering kali lebih menyadarkan orang-orang ketimbang tulisan dan konten fotografi atau video yang lebih gamblang. Karya grafis menjadi sarana penyampaian pesan yang cenderung abstrak, namun membuat orang bertanya-tanya. Di saat ada pertanyaan itulah, perhatian segera menghampiri dan membanjiri.

Satu kesan buat Republika: Salut! Semoga media massa lain juga bisa berkreasi dan mengeksplor berbagai ide dalam menyampaikan pesan. Dunia komunikasi ialah dunia kreativitas tanpa batas meskipun harus punya pemahaman terhadap berbagai batasan-batasan.

Kendati demikian, tidak serta merta setiap berita dianggap khalayak sebagai suatu pengalihan isu, sekalipun mereka memahami hal demikian. Ada juga yang yang memahaminya sebagai suatu kewajaran dalam industri komunikasi. Ada juga yang tidak mengakui adanya terminologi 'pengalihan isu', karena terkesan negatif. 
Powered By Blogger